Kamis, 05 November 2009

ritch carlton

Ingatan saya kembali ke masa SMA dulu. Pada sebuah kesempatan, seorang guru bertanya apa yang menjadi hobi kami. Diantara sekian banyak respons yang muncul, jawaban seorang teman membuat kami tak nyaman. Karena hobinya adalah membaca. Huh, keterlaluan, narsis, sok paten dan sangat “angkat telor”, cibir teman satu kelas.


Saya baru bisa memahami maksud dari hobi teman itu setelah belasan tahun kemudian. Membaca yang dia maksud ternyata bukan membaca dalam arti de jure; buku, majalah, surat kabar atau sejenisnya. Tapi membaca dalam arti luas. Pada praktiknya, dia mengajak hati dan pikiran untuk membaca realita. Membaca perubahan yang terjadi di sekeliling kita. Dari membaca cara ini, informasi sekecil apapun sesungguhnya bisa diperoleh, sekaligus membawa kita agar mawas diri.


Mawas diri? Kelihaian para teroris melakukan pengeboman JW Marriot dan Rich Carlton karena mereka mampu membaca situasi; menyusup ke hotel yang memiliki pengamanan ekstra. Atau memilih persembunyian yang menjungkirbalikkan seluruh teori terorisme; bersembunyi tak jauh dari kediaman Presiden (Cikeas) serta memilih rumah kos-kosan sebagai markas untuk menyusun aksi selanjutnya.


Paham ini adalah bukti jika para teroris berhasil memanfaatkan ketidakpedulian kita dalam membaca gelagat sosial masyarakat. Rasa ego dan cuek pada tetangga dan lingkungan itu ternyata menjadi senjata ampuh bagi mereka, para pelaku kejahatan.


Derajat bacaaan akan lebih tinggi jika kita berhasil membaca situasi alam. Bencana gempa yang terus mengancam beberapa tahun ke depan secara teori tak ada yang dapat memprediksi kapan dan di mana terjadi. Tapi sebuah kearifan lokal bisa mengajak kita untuk membaca tanda-tanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar